Rabu, 01 April 2015

KEGELISAHAN DI TANAH RANTAU



Aku adalah sesorang anak lelaki yang lahir dari sebuah daerah dari pulau sumatra indonesia, tepatnya di Provinsi Riau, aku seorang anak yang terlahir bukan dari keluarga yang berdarah biru dan dermawan, aku juga bukan seorang anak yang lahir dari keturunan ningrat yang bisa melakukan apa saja sesuai keinginanya. Aku seorang anak dari keluarga biasa-biasa saja dan sederhana, aku memiliki 4 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuan, aku anak paling paling bungsu dari 7 bersaudara, kini tinggal 6 bersaudara di karenakan anak ke 2 dari ibu ku telah meninggal dunia ketika di usia balita, saat ini semuanya telah menikah dan memiliki keluarga, dan tinggal aku si bungsu yang masih sedang meneruskan pendidikanya. Disini aku tidak sedang ingin mengarang cerita atau novel, tetapi disini aku sedang menceritakan kegelisahan yang ku rasakan sebulan belakangan ini.

Pada bulan juni 2012 lalu aku seorang anak yang baru lulus sekolah di jenjeang SMA. Seperti anak pada umumnya rasa ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi juga muncul dari dalam benak fikiranku saat itu, dengan segala upaya, dengan segala keterbatasan rasa tekat yang kuat menghasilkan dukungan dari kedua orang tuaku, awalnya aku belum tau harus masuk ke perguruan tinggi mana dan mengambil jurusan apa, namun hati kecil berkata kemanapun aku melanjutkan studiku aku ingin memperdalam pengetahuan ku di bidang IT, karena menurut ku sesorang yang menguasai IT akan bisa terampil di bagian apa saja ketika sudah berada di dalam dunia kerja, karena saat ini semua jenis pekerjaan sudah menerapkan IT dalam sistem mereka. Hari-hari berjalan begitu singkat hingga tibalah saat dimana aku harus menentukan pilihan ku untuk memilih melanjutkan pendidikan ku ke perguruan tinggi mana dan mengambil jurusan apa, pada akhirnya salah satu keluarga yang berada di jakarta bersedia membantu ku dalam peroses pendaftaran kuliahku, saat itu aku mendaftar di sebuah Universitas Suasta yang cukup baik di indonesia ini yaitu “UNIVERSITAS GUNADARMA”, keluarga ku yang baik tidak hanya membantu ku dalam peroses pendaftaran, melainkan aku diberikan tempat untuk tinggal di rumah mereka. Saat itu aku merasa sangat bersyukur dan banyak mengucapkan rasa terimakasih atas bantuan dan pertolongan yang mereka berikan kepadaku, aku tidak tau bagaimana cara membalas jasa-jasa mereka kepadaku yang begitu baiknya.

Perkuliahan di tahun ajaran baru pun sudah di mulai, seperti mahasiswa baru pada biasanya, aku saat itu merasa bangga karena aku bisa merasakan menjadi seorang mahasiswa, har-hari berjalan normal seperti biasa setiap pagi aku bangun untuk membantu pekerjaan rumah apa saja yang bisa ku kerjakan sebelum berangkat kuliah, karena aku menyadari keberadaan ku disini adalah sebagai anak yang di beri tumpangan dan pertolongan. Tanpa ku sadari bulan suci ramadhan pertama yang ku lewati di kota orang kini telah tiba, tahun ini tahun pertama ku melewati bulan suci ramadhan jauh dari ke dua orang tua, namun aku tidak terlalu merasa sedih karena aku sadar ini adalah pilihan ku yang harus aku jalani. Hari kemenangan telah tiba bagitu juga masa libur dari aktivitas perkuliahan yang telah tiba bersamaan dengan perayaan Hariraya Idul Fitry, rasa bahagia, rasa terharu, rasa kangen semua bercamputr aduk karena aku segera pulang ke kampung halaman di tahun pertama aku hidup di tanah rantau ini.

Hari kemenangan tahun ini sangat ku sambut dengan sukacita rasa bangga dan rasa rindu yang terpisahkan dari keluarga bisa segera tertumpah ruah bersama perayaan hari kemanangan ini. Masa libur yang terasa singkat sehingga mengharuskan ku untuk kembali ke jakarta meneruskan pendidikan ku supaya bisa lulus tepat waktu, masuk di tahun ke 2 ini kesibukan ku sebagai mahasiswa kini bertambah, selain dari tugas dari dosen sekarang aku juga menjadi pengurus sebuah organisasi di kampus, tentunya waktu ku begitu banyak tersita di setiap harinya sehingga intensitas untuk komunikasi dengan orang tuaku hanyalah setiap malam minggu. Malam minggu adalah malam dimana aku menghabiskan malamku untuk berbicara panjang lebar menceritakan keadaaan dan rutinitasku sehari” selama di tanah rantau ini, tidak jarang obrolan ku dengan orang tuaku ngalor ngidul sampai kemana-mana dari pembahasan yang sanggat penting bahkan sampai pembahasan yang samasekali tidak penting untuk di bahas, tetapi itulah kami yang menjalani hidup dengan kesederhanaan ini namun dengan penuh rasa kenyamanan, rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata” bagaimana rasa bahagianya ketika kita bisa berada di tengah-tengah kedua orang tua dan keluarga yang bisa menjadi tempat berbagi. Rutinitas telvonan setiap malam minggu itu terus berlanjut hingga saat ini.

Singkat cerita sampailah di masa-masa menjelang bulan suci ramadhan yang ke dua selama aku berada di tanah rantau ini. Namun tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jadwal ujian bentrok dengan libur idul fitri yang sudah di depan mata, ya begitulah kampus di tempat aku menuntut ilmu, mau tidak mau, rela tidak rela, ikhlas tidak ikhlas, tahun kemenangan ini harus ku lewati di tanah rantau yang jauh dari orang tua, rasa sedih ketika mengumandangkan takbir sehingga tidak terasa air mata ini mengalir begitu saja, yang ku rasakan saat itu bercampur aduk antara sedih dan kerinduan yang sudah lama tidak merasakan mencium tangan dan kening kedua orang tua. Hari kemenangan yang harus ku lewati dengan rasa tidak menang karena di saat orang lain bisa berkumpul dengan keluarga dan kedua orang tua aku hanya bisa berkomunikasi lewat telvon sebagaimana yang ku lakukan seperti di malam-malam minggu biasanya. Disinilah hal yang ingin ku ceritakan kepada siapapun yang ikhlas membaca tulisan ini, siapapun kalian, dimanapun kalian, dan apapun tujuan hidup kalian semoga bisa mengambil sisi positiv dari tulisan ini, karena tulisan ini pada hakiatnya adalah nasihat dari penulis dan di peruntukan untuk penulis itu sendiri.

Setiap orang anak manusia yang terlahir di dunia ini semua sama, kita 9 bulan berada di kandungan dan di lahirkan dari rahim seorang ibu. Saat kita terlahir yang bisa kita lakukan hanyalah menangis, dan di saat tangisan pertama yang kita raungkan ada seorang ayah yang mengazani kita, begitu besar pengorbanan seorang ibu, begitu besar tanggungjawab seorang ayah untuk kita. Dari usia kita yang balita sampai meranjak ke usia dewasa semua kita lewati dan kita lakukan dengan bantuan dari rasa sayang yang ikhlas dari ke dua orang tua kita, maka wajar rasanya jika kita di pisahkan oleh jarak yang jauh membuat kita seringkali merasa rindu, kangen, bahkan sedih, keitika kita yang dari balita dan di besarkan di tengah-tengah kasih sayang kedua orang tua harus di pisahkan jauh di tanah rantau, rasanya mustahil kalau kita bisa menjalani hari-hari tanpa teringat raut wajah mereka, raut harapan mereka yang mereka ucapkan ketika kita pertama kali melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumah. Harapan demi harapan, doa demi doa yang setiap saat terucapkan dari mulut ayah dan ibu yang berharap anaknya menemukan kesuksesan dan keberhasilan di tanah rantau membuat pribadi ku menjadi pribadi yang lebih gagah berani, membuat pribadiku lebih bertanggungjawab, dan banyak lagi dampak yang menjadikan perubahan dalam kepribadianku.

Menjadi anak rantau bukanlah hal yang mudah, menjadi anak perantau merupakan pelajaran yang takan pernah di dapat di dunia pendidikan manapun, mengapa demikian? Kareana ada banyak hal yang ku rasakan, ada banyak pelajaran yang ku dapatkan, ada banyak kekuatan yang bermunculan. Beruntunglah jika saat ini kalian masih tinggal di tengah-tengah hangatnya kasih sayang ke dua orang tua kalian didalam rumah yang se’atap, hormatilah kebersamaaan itu, hargailah waktu dan kesempatan yang ada, sayangilah mereka dengan perhatian-perhatian kecil yang menurut kita biasa saja tetapi sesungguhnya itu begitu luar biasa di mata mereka. Waktu tidak akan bisa kita putar kembali, saat-saat dan moment-moment yang menurut kita biasa saja tetapi itu berasa sangat berharga ketika kita sudah tidak bisa mendapatkanya kembali kesempatan itu, saat ini aku sedang merindukan kedua orang tuaku, rindu itu bukan hanya sebatas rindu biasa, tetapi rindu yang muncul ini di karenakan kesadaran dari dalam hati seorang anak untuk kedua orang tuanya bahwa tiada satu bahagia yang melebihi bahagia cinta yang di berikan oleh kedua orang tua dan keluarga kita. I LOVE YOU FAMILY :* :")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar